24 November 2009

Fenomena Koruptor Religius

Oleh: Anita Retno Lestari *)
*ADA* fakta ganjil yang sudah lama berlangsung di Indonesia: agama sering menjadi selimut atau topeng untuk me¬nutupi tindakan korupsi. Misalnya, kaum koruptor tampak rajin melaksanakan ritual agama dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat sekitarnya seperti menyelenggarakan acara doa bersama atau acara syukuran.
Bahkan, ketika membangun rumah, banyak koruptor yang tidak lupa membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Jika dicermati lebih serius, tidak ada koruptor di Indonesia yang tidak beragama. Karena itu, ada pertanyaan yang layak diutarakan: kenapa seseorang bisa menjadi koruptor sekaligus rajin beribadah? Adakah hubungan antara agama dan korupsi?

*Kamuflase *
Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah mungkin akan dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam hal ini, para ko¬ruptor sengaja memfungsikan agama se¬bagai kamuflase atas kejahatannya. Tentu saja, fenomena demikian bukan hal yang aneh dan baru dalam sejarah agama-agama.
Seperti dalam Islam, sejak awal ma¬sa perkembangannya, stigma munafik te¬lah diperkenalkan. Stigma itu diberi¬kan kepada orang yang sengaja mem¬fung¬sikan Islam hanya sebagai kamu¬fla¬se. Dalam Islam, orang munafik di¬anggap musuh paling berbahaya ba¬gi kaum muslimin. Ibarat musuh dalam sa¬tu selimut yang selalu siap mencela¬ka¬¬kan kapan saja. Dengan demikian, da¬lam Alquran maupun hadis, banyak disebutkan bahwa
kaum munafik ada¬lah kaum yang sangat dikutuk oleh Allah SAW.
Jika faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam, agaknya layak diduga, mereka tergolong kaum munafik. Bila mereka per¬nah atau sedang menjadi pejabat-pejabat penting, bangsa dan negara Indonesia, sepertinya, juga layak ditengarai se¬bagai ikut-ikutan terkutuk, dengan bukti seringnya terjadi bencana atau tra¬gedi kemanusiaan.
Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya
menga¬da¬kan acara doa bersama atau acara syukuran, ada kesan bahwa para pemuka agama seolah-olah ikut mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut bisa saja menyakitkan, tapi agaknya tetap layak diungkapkan. Sebab, itu didukung fakta yang cenderung semakin fenomenal.
Fenomena memfungsikan agama sebagai kamuflase serta kemunafikan para
koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye pe¬milu (dan belakangan pilkada). Misalnya, betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lom¬ ba merangkul pemuka-pemuka agama. Betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan sumbangan dana pembangunan fasilitas peribadatan atau sarana pendidikan agama. Dalam hal ini, semua pe¬muka agama justru gembira (dan tidak ada yang keberatan atau sekadar mengkritik perilaku munafik).
Karena itu, wajar-wajar saja jika ada yang bilang bahwa pemuka-pemuka agama sekarang akan senang-senang saja menerima sumbangan dana meski si pemberi jelas-jelas seorang koruptor!

*Kontradiksi *
Beberapa tahun lalu, dari lingkungan sebuah organisasi keagamaan, muncul fatwa bahwa koruptor yang meninggal dunia tidak wajib disalati. Pasalnya, koruptor identik dengan munafik. Fatwa demikian selayaknya menjadi otokritik. Sebab, selama ini banyak koruptor yang gemar mendatangi kiai-kiai untuk memberikan sumbangan dana pembangunan masjid dan pondok pesantren. Mereka bermaksud mendapatkan dukungan politik dari kiai dan pengikut mereka.
Adanya fatwa dan perilaku kemunafikan tersebut tentu saja merupakan kontradiksi yang bisa saja akan membingungkan masyarakat awam. Bagaimana mungkin pemuka agama bisa akur dengan koruptor?
Dengan demikian, agaknya, juga perlu segera ada fatwa baru untuk menjelaskan kontradiksi tersebut, agar ke depan tidak semakin membingungkan masyarakat awam. Sejauh ini, kontradiksi itu memang belum pernah dikaji secara serius oleh komunitas-komunitas keagamaan di Indonesia. Bahkan, belum ada pemuka agama yang mempersoalkan kontradiksi tersebut secara terbuka. Dengan begitu, hal ini pun kemudian mengundang pertanyaan baru: benarkah telah terjadi kompromi antara koruptor dan
kalangan pemuka agama, karena sebagian hasil korupsi digunakan untuk mendanai kepentingan pengembangan agama?

*Revitalisasi Agama *
Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarkan oleh pemuka-pemuka agama karena, sepertinya, telanjur dianggap bukan masalah yang perlu dipersoalkan lagi. Jika kini sejumlah perangkat hukum yang ada tidak bisa memberantasnya, sepertinya, perlu dilakukan upaya-upaya alternatif. Misalnya, melakukan revitalisasi agama oleh kalangan pemuka agama. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, memandirikan semua organisasi keagamaan di Indonesia dengan menerapkan sikap tegas untuk tidak menerima sumbangan dana dari pihak-pihak yang terindikasi korup.
Kedua, pemuka-pemuka agama menolak terlibat dalam politik praktis dengan cara tidak bergabung atau sekadar bersimpati kepada kekuatan politik yang korup. Dalam hal ini, pada saat menjelang pemilu atau pilkada, pemuka agama harus netral dan tidak mendukung secara langsung maupun tidak langsung yang menguntungkan para koruptor.
Ketiga, mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap indikasi-indikasi korupsi agar tidak memberikan dukungan politik kepada siapa pun yang terindikasi korup.
Keempat, pemuka agama serta umat beragama segera memutuskan hubungan dengan semua pejabat negara yang terindikasi korup. Dalam hal ini, menolak tegas undangan doa bersama atau acara syukuran yang diselenggarakan oleh pejabat negara yang terindikasi korup. Dengan cara demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan
menjadikan agama sebagai kamuflase.
Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang identik dengan merajalelanya kaum munafik dalam melakukan korupsi berjamaah mungkin akan segera dapat dikikis habis. (*)

*) Anita Retno Lestari, direktur Lembaga Studi Humaniora


Selengkapnya...

13 November 2009

Peraturan Menteri tentang UN 2009/2010

Berikut adalah salinan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang pelaksanaan UASBN dan UN tahun pelajaran 2009-2010 beserta lampiran yang memuat Kisi-kisi Soal UASBN dan UN tahun pelajaran 2009-2010

1. Permendiknas No. 74 tahun 2009, Tentang UASBN SD/MI/SDLB TAHUN 2009-2010
2. Permendiknas No. 75 tahun 2009, Tentang UN SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/ SMK TAHUN
2009-2010
3. Permendiknas No. 76 tahun 2009, Tentang UN PAKET C KEJURUAN Tahun 2009
4. Permendiknas No. 77 tahun 2009, Tentang UN PROGRAM PAKET A, PAKET B, PAKET C DAN
PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN 2010
Selengkapnya...

09 Juni 2009

Susu Sapi Bukan Untuk Manusia

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.


Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei!
sumber:
http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Susu_Sapi_Bukan_untuk_Manusia_.html
Selengkapnya...

21 Maret 2009

Sekolah Bertaraf Internasional

Tulisan Berikut dikutip dari Tanggapan Tulisan Pak Satria Dharma
(http://satriadharma.wordpress.com/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#more-49)


Salam Hormat untuk Pak Satria, saya suka dengan tulisan-tulisan Bapak yang kritis tentang pendidikan di Indonesia. Saya salah seorang pendidik yang bekerja di sekolah bertaraf internasional yang menggunakan kurikulum IB. Saya terlibat dalam pergumulan dan permenungan yang cukup lama sebelum memutuskan kurikulum apa yang akan ditambahkan ke dalam kurikulum nasional kita sehingga bisa menggali potensi anak didik dan menjadikan mereka individu yang siap dan mandiri untuk hidup di masyarakat. Kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan kurikulum IB. Banyak tantangan yang kami hadapi terutama cara pandang orang tua murid yang sudah terbentuk untuk selalu memperhatikan nilai test/hasil akhir tanpa menghargai proses. Kami pun perlu mengadakan beberapa kali sesi untuk bisa mengubah cara pandang orang tua tentang pembelajaran yang menempatkan anak sebagai subyek pembelajaran, juga pembelajaran yang melibatkan orang tua berperan aktif.


Tantangan lain yang kami hadapi adalah merekrut pendidik yang tepat untuk kurikulum yang kami tawarkan. Hanya beberapa orang guru saja dari ratusan guru yang melamar di sekolah kami yang benar-benar berkualitas tepat untuk mengajar dengan bahasa Inggris sebagai media komunikasi. Saya juga prihatin dengan kualitas guru-guru yang dihasilkan dari perguruan tinggi/FKIP yang tidak sesuai dengan IP yang ada di sertifikatnya. Bagaimana mungkin seseorang dengan IP lebih dari 3 berpredikat Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris namun setelah di tes dalam seleksi perekrutan menjawab ” Maaf Bahasa Inggris saya belum fasih, makanya saya ingin melancarkan bahasa Inggris saya dengan mengajar.” Langsung si pelamar tersebut kami minta untuk pulang dan memperdalam bahasa Inggrisnya sebelum melamar lagi untuk menjadi guru bahasa Inggris.

Untuk guru-guru yang baru lulus dan bekerja pada sekolah kami, training adalah hal wajib pertama yang harus mereka jalani. Selama 3 minggu penuh mereka mengikuti training awal di sekolah kami sehingga mereka siap untuk memulai hari pertama dan hari-hari selanjutnya mengajar anak-anak didik. Training berkala pun diadakan untuk membuat para guru tahu bagaimana cara pembelajaran terkini yang harus mereka kuasai dan transferkan ke anak didik.
Sejak awal didirikan sekolah kami memang sudah memutuskan untuk menggunakan Bahasa Inggris sebagai media komunikasi selain Bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Inggris adalah syarat mutlak bagi para guru yang kami rekrut.

Dari pengalaman yang saya alami lebih mudah mengajar anak balita berbahasa Inggris daripada mengajar orang dewasa untuk menguasai bahasa Inggris. Susah sekali untuk menjadikan orang dewasa yang tidak berbahasa Inggris sama sekali untuk menguasai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari apalagi untuk meminta mereka untuk mentransfer konsep pengajaran dalam bahasa Inggris.

Jadi untuk mengubah guru yang tidak berbahasa Inggris untuk mengajar dalam bahasa Inggris dengan mengirimkan mereka ke institusi/kursus bahasa Inggris yang terbaik sekalipun menurut saya adalah HIL yang MUSTAHAL. Ini menyangkut teori otak juga dimana Bahasa akan mudah dipelajari oleh otak dari usia dini 0-6 tahun. Di usia 6-12 untuk mempelajari suatu bahasa akan memakan waktu lebih lama dan sulit, sedangkan diatas 12 tahun lebih sulit lagi untuk menguasai suatu bahasa.

Saya setuju dengan bapak tentang kekhawatiran bapak dengan keberhasilan sekolah rintisan bertaraf internasional karena para pengajarnya yang belum dipersiapkan secara hati-hati.
Sekolah kami memerlukan waktu 5 tahun untuk mendapatkan otorisasi dari International Baccalaureate Organization untuk Primary Years Programme (untuk anak usia 3-12 tahun).

Salam
Yustina Ries


Selengkapnya...

07 Maret 2009

Posisi dan Pencahayaan Saat Mengoperasikan Komputer

Posisi tangan saat mengoperasikan Keyboard


Posisi Tangan Saat Pegang Mouse



Posisi Duduk dan Cara Duduk yang Benar

Selengkapnya...

22 Desember 2008

Kontroversi UU BHP

Rabu (17/12) lalu DPR mengesahkan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Pengesahan UU tersebut menimbulkan sejumlah polemik dan kontroversi.
Bahkan sejumlah mahasiswa di Makassar dan Jakarta ramai-ramai berdemo menolak UU tersebut. Mengapa UU BHP tersebut menimbulkan kontroversi dan mengapa DPR berkeras untuk mengesahkan UU tersebut? Apa manfaat dan kerugiannya bagi dunia pendidikan kita? Tulisan ini mencoba memberikan satu perspektif singkat mengenai pertanyaan-pertanya an itu.Tentu saja akan ada perspektif lain dalam melihat UU BHP.

Otonomi atau Liberalisasi?

Sejak awal disiapkan,RUU BHP— yang merupakan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional—memang menuai berbagai persoalan. Dominasi isu yang muncul adalah apakah negara bermaksud melepaskan tanggung jawab konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945.


Isu ini semakin kuat jika dikaitkan dengan gejala liberalisasi (neoliberalisme)—atas nama profesionalisme dan korporasi— yang sudah terjadi pada sektorsektor yang lain melalui privatisasi. Apalagi di dalam draf-draf awal RUU BHP tersebut dimungkinkan dan dimudahkannya lembaga pendidikan tinggi asing mendirikan BHP di Indonesia melalui kerja sama dengan BHP Indonesia yang telah ada.

Pasal ini memiliki sisi positif untuk meningkatkan daya saing pendidikan tinggi untuk menyerap pengetahuan pendidikan tinggi asing,tetapi juga dapat memiliki dampak negatif berupa liberalisasi pendidikan tinggi yang dapat menyebabkan intervensi dan penguasaan pendidikan oleh lembaga pendidikan tinggi asing.

Pasal ini telah dihapus dalam UU BHP yang ditetapkan oleh DPR. Kontroversi lainnya adalah seputar biaya pendidikan yang dikhawatirkan akan semakin mahal dengan terbentuknya BHP.Kekhawatiran ini berasal dari praktik perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) sebagai species BHP yang selama ini terjadi dan bertendensi memarginalisasi anak-anak tidak mampu untuk mengenyam pendidikan.

Perjalanan dan perenungan penulis terhadap praktik PT BHMN selama ini menyimpulkan bahwa pembiayaannya masih berpijakpadabiayaop erasionalpe ndidikan (BOP) yang dipungut dari peserta didik.. Hal ini terjadi karena berbagai persoalan,seperti aset PT BHMN yang masih dimiliki oleh negara menyebabkan kesulitan pengembangan sumber penerimaan lain dari ventura bisnis.

Di sisi lain, betapa sulitnya melakukan perubahan budaya penyelenggara (baik pengelola,dosen dan tenaga kependidikan) dari budaya birokrasi ke budaya korporasi. Jalan mudah yang selama ini ditempuh adalah membebankan pembiayaan operasional kepada peserta didik.
Kekhawatiran ini cukup beralasan, meski selama ini PTBHMN secara terbatas juga memberikan fasilitas bantuan pendidikan dan beasiswa kepada peserta didik. Demikian besarnya kekhawatiran masyarakat terhadap mahalnya biaya pendidikan tersebut, para wakil rakyat di DPR merasa perlu untuk mencantumkan kewajiban pemerintah dalam pembiayaan pendidikan oleh BHP.

Dalam draf terakhir yang disahkan pada 17 Desember 2008 lalu, pasal-pasal tentang kekayaan dan pendanaan pendidikan oleh BHP diarahkan untuk memperkuat peran negara dalam pembiayaan pendidikan. Misalnya saja kekayaan BHP pemerintah/ pemerintah daerah (BHPP dan BHPPD) merupakankekayaanpe ndiri (negara/pemerintah daerah) yang dipisahkan (Pasal 37).

Sedangkan semua bentuk pendapatan dan sisa hasil usaha kegiatan maupun penggunaan tanah negara tidak termasuk pendapatan negara bukan pajak (Pasal 38) dan harus ditanamkan kembali ke dalamBHPuntuktujuan peningkatan kualitas pendidikan.Khusus untuk pendanaanpendidikan bagiBHPPdan BHPPD, pemerintah dan pemerintah daerah menanggung paling sedikit 1/3 biaya operasional untuk pendidikan menengah dan paling sedikit 1/2 biaya operasional untuk pendidikan tinggi (Pasal 41 ayat 4 dan 6).

Biaya penyelenggaraan pendidikan yang ditanggung oleh peserta didik dalam BHPP dan BHPPD paling banyak 1/3 dari biaya operasional. Dalam pasal lain UU BHP juga mewajibkan penyelenggara pendidikan untuk memberikan beasiswa, bantuan pendidikan,kredit mahasiswa dan pemberian pekerjaan kepada peserta didik (Pasal 40),dan wajib menjaring dan menerima warga negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu paling sedikit 20% dan jumlah keseluruhan peserta didik.

Hal menonjol dan sampai saat ini tetap menjadi ganjalan dalam UU BHP adalah berlakunya ketentuan BHP bagi penyelenggara pendidikan swasta oleh masyarakat. Seluruh ketentuan BHP berlaku bagi BHP masyarakat (BHPM), kecuali mengenai ketegasan bantuan pemerintah untuk biaya investasi, beasiswa dan biaya operasional pendidikan sebagaimana berlaku bagi BHPP dan BHPD.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah memang ikut menanggung dana pendidikan untuk BHPM dan BHP penyelenggaraan (yayasan dan perkumpulan) dalam bentuk bantuan pendidikan, tetapi hal ini hanya berlaku bagi pendidikan dasar dan tidak ditentukan besaran minimal bantuan tersebut. Dapat dikatakan bahwa proporsi pengaturan pasal-pasal dalam UU BHP lebih condong dan lebih cocok untuk lembaga pendidikan pemerintah ketimbang lembaga pendidikan swasta.

Menuju Implementasi UU BHP

Berbagai kontroversi di atas seharusnya bermuara pada satu pertanyaan, dapatkah UU BHP ini diimplementasikan untuk menjamin kualitas pendidikan kita yang semakin baik?
Penulis sendiri berposisi mendukung penguatan profesionalisme otonomi penyelenggaraan pendidikan, tanpa harus melepaskan tanggung jawab negara terhadap pendanaan pendidikan. Tentu saja dengan berbagai catatan, bahwa implementasi UU BHP tidak boleh menyebabkan komersialisasi pendidikan yang dapat membatasi hak-hak masyarakat—termasuk golongan tidak mampu—untuk menikmati pendidikan.

Pun bantuan dan subsidi yang diberikan oleh negara terhadap pendidikan tidak boleh menyebabkan hilangnya kreativitas dan inovasi lembaga pendidikan untuk melakukan knowledge sharingdan knowledge creation. Jika dilihat dari pasal-pasal dalam UU BHP, sejatinya cukup melegakan bahwa tanggung jawab negara dalam pendidikan tidak hilang dan dihilangkan.
Demikian pula tuntutan UU BHP untuk akuntabilitas, keterbukaan, partisipasi dan transparansi dalam penyelenggaraan pendidikan. Yang justru dikhawatirkan adalah kemampuan negara untuk membiayai 1/3 biaya operasional (pendidikan menengah) dan 1/2 biaya operasional (pendidikan tinggi) bagi seluruh BHPP dan BHPPD. Nilai itu belum termasuk biaya investasi, beasiswa, dan subsidi lain.

Dana ini juga belum termasuk bantuan pemerintah dan pemerintah daerah kepada BHPM. Jika pemerintah tak memiliki dana cukup untuk membiayai itu semua,maka kekhawatiran sejumlah mahasiswa dalam praktik PT BHMN selama ini akan terjadi. Hal lain yang cukup mengganggu, sering kali implementasi UU terhambat oleh buruknya kapasitas sistem birokrasi negara.
Jika bantuan dana tersebut dilakukan melalui birokrasi negara, bukan tidak mungkin proses pendidikan secara keseluruhan juga akan terwarnai oleh buruknya kompetensi dan rusaknya moralitas birokrasi. Kepada seluruh pemangku kepentingan penulis menghimbau,mari kita diskusikan polemik BHP ini dengan kerangka dan tujuan yang sama: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.(*) *) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

Eko Prasojo
Guru Besar FISIP UI dan anggota MWA UI
http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 197560/
Selengkapnya...

02 Desember 2008

Kiat Menghadapi Stres

Tidak semua stres itu negatif. Kita bahkan butuh stres untuk merangsang kreativitas.
Tentu, kalau kita bisa menyiasatinya.

SECARA fisiologis, bila ada sesuatu yang mengancam, kelenjar pituitary yang terletak di bawah otak mengirimkan "alarm" dan hormon ke kelenjar endokrin, yang kemudian mengalirkan hormon adrenalin dan hidrokortison ke dalam darah. Hasilnya, tubuh menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang muncul.
Memang, dalam kondisi stres tubuh langsung menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang dengan mengubah sistem di dalam tubuh untuk mengatasinya. Inilah sebabnya banyak dikatakan bahwa stres yang melebihi daya tahan atau kemampuan penyesuaian tubuh akan menyebabkan gangguan baik fisik maupun psikis.
Penelitian di AS menemukan, enam penyebab utama kematian yang erat hubungannya dengan stres adalah penyakit jantung koroner, kanker, paru-paru, kecelakaan, pengerasan hati dan bunuh diri.

Sumber dan Manfaat Stres
Kalau mau dikatakan dengan jujur: ke mana pun pergi, Anda tak dapat lari dari stres! Apalagi di zaman yang kian keras, individualistik, kompleks dan penuh persaingan. Dr. Alfred M. mengatakan, "Stres adalah kondisi mutlak manusia berbudaya".Penelitian di AS menunjukkan 44 % karyawan golongan kerah putih (white collar) termasuk dalam kelompok yang dibebani pekerjaan terlampau berat. WHO malah memperkirakan setiap saat satu % penduduk dunia mengalami gangguan mental karena stres.
Bagi eksekutif hidup di bawah tekanan, ternyata merupakan prasyarat untuk menapaki karier. Semua stressor dapat berakibat baik, selama yang menerima mampu menyesuaikan diri. Setiap orang memang mempunyai persediaan energi tertentu untuk mengisi sistem endokrin. Menjadi biasa terhadap ancaman (stressor) menyebabkan seseorang tak lagi tertekan kalau terkena stres. Setelah berpengalaman mengalami stres, ambang batas semacam itu selalu dapat ditingkatkan. Stres memberi kesempatan pada seseorang untuk belajar menghadapi tekanan dan hasilnya diperoleh kemampuan yang bermanfaat untuk menghadapi berbagai jenis stres selanjutnya. Para ahli jiwa mengatakan bahwa stres diperlukan untuk pendewasaan diri.
Maka, jangan heran kalau mengenal beberapa orang yang senang mencari tantangan. Mereka selalu merasakan nikmatnya mengatasi kesulitan besar, yang bagi orang lain merupakan kegiatan yang penuh stres. Toleransi stres mereka memang lebih tinggi. Suasana nyaman atau tenteram malah tidak terlalu mereka sukai. Mereka selalu mencari atau menciptakan situasi yang penuh stres.
Beberapa kondisi yang bisa memicu stres adalah tugas/tanggungjawab yang tak jelas, konflik peran dalam jabatan, terlalu terbebani tugas atau batasan waktu dalam menyelesaikan tugas. Bisa jadi, atasan atasan yang tak menyenangkan, perubahan tugas/lokasi kerja, juga ketakjelasan karier/sasaran pekerjaan dan kesulitan hubungan interpersonal/kelompok.

Gejala Mengidap Stres
Gejala stres biasanya muncul perlahan-lahan, tidak jelas kapan mulainya dan sering tidak disadari. Dari kesehatan memburuk, prestasi kerja menurun sampai gangguan mental yang berat.
Para ahli membagi stres menjadi enam tahap, dengan gejala yang khas di setiap tahap.
Tahap pertama
, biasanya orang menjadi bersemangat besar. Penglihatannya menjadi lebih tajam dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih besar. Cuma, tak disadari bahwa cadangan energinya menjadi menipis.
Tahap kedua, dampak stres yang menyenangkan mulai hilang dan timbul keluhan-keluhan akibat cadangan energi tak lagi cukup. Gejalanya: keletihan, gangguan sistem pencernaan, disertai jantung berdebar, tekanan darah naik, rasa tegang di otot punggung dan tengkuk. Juga timbul perasaan-perasaan tak enak: tak puas, khawatir/cemas, tertekan, rendah diri, jenuh/bosan atau merokok dan minum berlebihan.
Tahap Ketiga, ditandai dengan semakin sering munculnya gangguan tadi dan mulai ada kesulitan tidur (insomnia). Pada tahap ini konsultasi dengan dokter harus dilakukan, kecuali kalau beban stres atau stressor dikurangi dan tubuh mendapat kesempatan beristirahat.
Tahap keempat lebih parah lagi, mulai timbul kesulitan dalam kemampuan untuk menanggapi situasi. Tidur semakin sulit, mimpi tegang sering muncul. Konsentrasi menurun drastis, ditambah adanya perasaan takut yang tak jelas sebabnya.

Pada tahap kelima hal-hal itu semakin menghebat. Penderita merasa sangat takut, sehingga mirip panik.
Pada tahap terakhir muncul gejala sesak napas, badan gemetaran, keringat berlebihan dan mudah kehilangan tenaga. Tahap keenam ini acap membuat orang pingsan.

Manajemen Stres
Pertama harus diingat, bukan stres yang merusak, tetapi cara kita menghadapinya. Shakespeare menulis: things are neither good or bad, but thinking makes them so. Ada beberapa orang yang mengalami jenis stres yang sama dan tidak apa-apa, tetapi orang lain ada yang langsung collapse. Anehnya, walau kita tak dapat bekerja maksimal saat stres yang cukup berat, tubuh kita tak akan dapat bekerja tanpa adanya stres. Aturan umum supaya tubuh kita dapat menghadapi segala tekanan yang datang ialah "stres-relaks, stres-relaks".
Departemen Kesehatan Jepang menemukan lebih dari 50 % orang Jepang mengalami stres dalam bekerja dan persahabatan, dan mereka umumnya menghadapinya dengan cara menonton TV, mengobrol atau meneguk minuman agar bisa santai. Mengetahui batas kemampuan diri sendiri juga merupakan cara yang baik dalam menghadapi stres. Jatuh sakit biasanya merupakan tanda bahwa seseorang betul-betul memerlukan istirahat. Jadi, sebelum sakit, kita sebaiknya sudah sempat beristirahat, mengambil cuti atau berlibur.
Karena stres adalah pengalaman yang mengakibatkan ketakseimbangan dalam diri seseorang. Saat menderita stres, dianjurkan untuk berbincang-bincang dengan orang lain, siapa pun. Yang penting ia dapat membuat penderita memahami keadaan dirinya. Lebih baik lagi kalau konsultan ini membuatnya dapat meningkatkan kualitas hidup. Kondisi terbaik akan tercapai kalau penderita mengakui ia benar-benar menderita karena mengalami stres dan ingin sembuh.
Orang yang berkepribadian matang memiliki daya tahan lebih besar dalam menghadapi stres. Kematangan semacam ini diperoleh dengan bersikap realistis dan berani menghadapi kenyataan. Sikap ini akan meningkatkan kesadaran terhadap batas kemampuan diri, sehingga ia tak akan menuntut dirinya dan orang lain terlalu tinggi, yang akhirnya hanya akan menimbulkan frustasi, yang berujung pada stres berkepanjangan.
Kebiasaan sehari-hari seperti makan, tidur, olahraga yang teratur dan mencukupi dapat meningkatkan ketahanan dalam menghadapi stres. Gizi yang baik maupun kedisiplinan untuk bekerja dan bersantai banyak berguna dalam hal ini. Mempunyai perhatian terhadap hal-hal selain yang dikerjakan rutin juga sangat menolong. Selain memperluas cakrawala pandangan, hal itu dapat menjadi pelarian kalau situasi stres mulai mengancam.
Tak kalah penting adalah faktor-faktor psikis, seperti hubungan yang baik dengan teman, keluarga dan kerabat. Dalam suasana bahagia dan sehat, orang tak mudah jatuh terkena gangguan stres. Penelitian menunjukkan 80% stres memiliki hubungan keluarga yang kurang harmonis.

Selengkapnya...

17 November 2008

Hikmah Membaca Al-Qur'an

Why do we read Quraan, even if we can't understand a single Arabic word ?
Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun artinya ?
This is a beautiful story :
Ini suatu cerita yang indah :
An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran.
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya.
His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked, "Grandpa! I try to read the Qur'an just like you but I don't understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur'an do?"
Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur'An?

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, "Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water."
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas sambil berkata , " Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."
The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house.
Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
The grandfather laughed and said, "You'll have to move a little faster next time," and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home.
Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, "I don't want a bucket of water; I want a basket of water.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong , maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, " Aku tidak mau satu ember air ; aku hanya mau satu keranjang air.
You're just not trying hard enough," and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house.
Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, "See Grandpa, it's useless!" "So you think it is useless?"
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?"
The old man said, "Look at the basket." The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out.
Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. "
"Son, that's what happens when you read the Qur'an. You mi ght not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.
"Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu.
From: sakira
To: sfl_anwar@yahoo.com


Selengkapnya...