05 November 2011

Hancurnya Peradaban Kami Akibat Pornografi*

Satu hari, ketika membaca tweet yang dilontarkan oleh Ulil Absar Abdalla, sebagai guru saya merasa sedih bukan kepalang. Pedih sekali membaca kalimatnya yang berbunyi begini, “Apa ada negara atau peradaban hancur karena pornografi? Setahu saya tak ada.” Saya juga membayangkan kedua orangtua gadis kecil berinisial PA, yang diperkosa dua orang temannya di toilet sekolah pada jam pelajaran olahraga. Januari lalu, PA diperkosa oleh D, yang berumur 10 tahun dan R yang berumur 13 tahun hingga tak sadarkan diri. Mereka bertiga, duduk di kelas V Sekolah Dasar Negeri 13 Pagi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Bagi PA dan kedua orangtuanya, hari itu peradaban keluarga mereka hancur, akibat pornografi yang telah memapar otak-otak bocah seperti R dan D. Selang sepekan, berita yang lebih dahsyat lagi terdengar dari Purbalingga. Lima siswa Sekolah Dasar mencabuli bocah usia Taman Kanak-kanak, sebut saja namanya Bunga. Lima orang bocah ini baru duduk di kelas tiga dan empat Sekolah Dasar Negeri Kebutuh, Bukateja, Purbalingga. Mereka dengan tega mencabuli adik TK mereka, karena ingin mempraktikkan video mesum yang telah mereka tonton bersama. Bahkan, ada salah seorang di antaranya telah melakukan perkosaan kepada bocah TK untuk kedua kalinya. Bagi Bunga dan kedua orangtuanya, hari itu juga mungkin hari yang meruntuhkan masa depan dan kehidupannya. Kisah-kisah dan fakta seperti inilah yang membuat saya, bersama sahabat-sahabat guru mendirikan semacam teachers initiative, yang kami namakan Teachers Working Group. Misi besarnya adalah menjadi sahabat guru, melakukan pendampingan dan memperkaya skill teaching sesama guru. Tapi itu semua kami kerjakan dengan kesadaran penuh untuk membangkitkan guru melawan segala bentuk gejala sosial yang mengancam dan mengintai anak-anak murid kami. Kami berkeliling ke kota-kota di Indonesia, untuk membangkitkan kebanggaan para guru dan selanjutnya mendorong guru untuk mengambil peran sosial dan memimpin perubahan, meski kecil dan tidak seimbang dengan kerusakan yang menjalar. Akhir Januari lalu misalnya, dalam sebuah sarasehan dan seminar yang kami gelar di Tangerang, sengaja kami mengangkat tema Menemani Murid yang Bermasalah. Dan ternyata, masalah yang mengemuka sedikit sekali tentang hambatan belajar, sebagian besar justru masalah sosial, wabil khusus kehidupan bebas di tengah para murid-murid kami. Ibu Indrawati misalnya, guru salah satu SMP Negeri di wilayah itu. Selepas acara menemui kami, para panitia dan curhat sambil meneteskan air mata. Sebagai guru, dia dekat dengan murid-muridnya dan ingin berbagi setiap jengkal kebaikan tentang hidup pada mereka. Satu hari, dia mendapati muridnya yang baru kelas II SMP, mengadu tentang dirinya yang telah melakukan hubungan intim dengan pria kuliahan yang dikenalnya lewat facebook. Dan yang melakukan hal seperti itu, tidak saja dirinya, tapi banyak juga teman yang lainnya. Ada yang melakukan di hotel, di tempat-tempat tertentu, bahkan di rumah mereka sendiri di saat orangtua mereka pergi. Sebagai guru, Ibu Indrawati merasa sedih sekaligus bingung mendapat masalah seperti ini. Sebab, sang murid bercerita, bahwa sekarang, yang disebut pacaran selalu dan harus melibatkan hubungan intim di antaranya keduanya. Karena bingungnya, ibu guru yang satu ini curhat untuk mencari solusi kepada guru lainnya. Tapi sedihnya, bukan solusi atau berbagi rasa yang didapatkan. “Makanya, jangan deket-deket sama murid, nanti dapat masalah,” begitu sambutan guru lain yang diajaknya bicara. Maka, siang hari itu, kami menangis bersama. Seolah bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang berjanji akan bekerja sekuat daya untuk mendampingi anak-anak murid kami. Bulan sebelumnya, kami membuat acara yang sama di wilayah Bandung. Sekitar 250 guru hadir dan terlibat. Salah satu pembicara adalah Ibu Endang Yuli Poerwati, guru agama SMA Negeri IV, Bandung. Kisah yang dituturkannya bermula dari anak bayinya yang terjatuh dari tempat tidur. Karena khawatir, dibawalah sang bayi untuk diurut oleh “dukun bayi” yang di Bandung lebih dikenal dengan sebutan paraji. Selepas mengurut bayi, sang paraji meminta bantuan, bersediakah Ibu Yuli membawa dan merawat bayi yang beberapa malam lalu ditinggalkan kedua orangtuanya yang masih remaja, ketika mereka datang untuk dibantu saat melahirkan. Dan ini menjadi kisah awal dari perjalanan Ibu Yuli. Kini di rumahnya tinggal belasan anak-anak yang diasuhnya seperti anak sendiri, dan kisah mereka nyaris sama, tak jauh berbeda. Ada yang hasil perkosaan, ada yang karena pergaulan bebas, ada pula anak dari gadis yang dihipnotis lelaki bejat, dan bahkan ada anak yang dijual orangtuanya sendiri karena keperitan hidup. Ada pula kisah salah satu sahabat kami yang telah melahirkan sebuah buku berjudul La Tahzan for Teachers, Irmayanti. Dia kini mengajar di salah satu sekolah menengah atas di bilangan Ciledug, Tangerang. Ketika pertama kali masuk dan mengajar, beberapa guru memberitahukan sesuatu yang mencengangkan. Jangan dikira anak-anak ini masih perawan semua! “Mendengar kalimat itu hati saya seperti dicekal, sampai sulit bernapas,” terang Irmayanti. Siswanya tidak banyak, kurang lebih hanya 100 orang, dan 30 di antaranya anak perempuan. Hampir semuanya terlibat wajar dan baik-baik saja. Anak-anak perempuan ini patuh, rajin, berjilbab, menggunakan baju lengan panjang dan rok panjang nan longgar yang menutup aurat. Bahkan mereka sering shalat dhuha berjamaah di sekolah dan rajin mengikuti bimbingan rohis dalam halaqah, lingkaran 10 orang yang ditemani pembinanya. Tapi semua gambaran itu seolah runtuh, peradaban baik itu seolah hancur ketika salah seorang murid setelah tangisan panjangnya mengadu bahwa dia sudah ditiduri sang pacar. Hati Irmayanti seolah semakin hancur ketika bertemu seorang guru yang berkata dengan ringan, “Kita bertanggung jawab atas mereka sejak bel masuk sekolah sampai bel pulang sekolah. Memastikan anak-anak ini berlaku baik dalam rentang waktu itu.” Dalam catatan di bukunya, Irmayanti menuliskan kepedihan itu. “Sekolah menengah dipenuhi anak-anak baru gede yang bingung. Mereka belum lagi memiliki prinsip, gempuran sudah datang bertubi-tubi dari sana dan dari sini. Gaya hidup, pergaulan, konsumerisme, tontonan. Kasihan. Mereka tak paham, milik siapa tubuh ini dan tak tahu bagaimana memperlakukan dengan penuh hormat diri sendiri.” Maka, sebagai penutup saya ingin berbagi angka semua dengan pembaca. Tahun 2010, tercatat angka 120 ribu penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia, 40 ribu di antaranya adalah ibu rumah tangga dan sebagian besar penderita berusia di bawah umur 24 tahun. Ini baru angka yang mampu dicatat oleh Kementerian Kesehatan dan Komisi Perlindungan HIV/AIDS Indonesia. Angka yang sebenarnya, tidak akan pernah terungkap dan jauh lebih besar daripada yang didapat. Di Jakarta, Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta merilis angka penderita penyakit kelamin di Jakarta berjumlah 9.060 orang, dengan rincian 5.051 orang berjenis kelamin perempuan dan sisanya pria. Dari total jumlah penderita tersebut, 3,007 di antaranya masih berusia antara 14 dan 24 tahun. Ini belum ditambah dengan angka aborsi di Indonesia. Setiap tahun, janin-janin yang dibunuh akibat zina yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi kita semakin meningkat, bahkan mencapai 2,6 juta per tahunnya. Lagi-lagi, itu baru yang mampu tercatat. Bahkan, ada yang membuat rata-rata, setiap hari ada 30 bayi yang dibuang oleh orangtua laknat. Ada yang dicacah di dalam WC kampus, ada yang dimakan anjing di jalanan, ada yang tersangkut di jembatan terseret aliran sungai, ada yang dibuang begitu saja seolah sampah. Jika fenomena ini semua belum lagi bisa disebut tanda-tanda atas hancurnya peradaban, lalu kita akan menyebutnya apa? Apakah fenomena ini baru bisa disebut dampak kehancuran pornografi yang memicu kehidupan zina setelah orang-orang yang tak pernah khawatir adalah korbannya? Mari, bersama angkat beban. Meski sedikit dan ringan, gelombang besar ini harus dibendung dengan perjuangan. Kita harus menahannya dengan kantung-kantung pasir agar kerusakan akibat banjir tak melebar dan bertambah besar. Dan semoga Allah menolong kita dan menjadi saksi atas semua usaha ini, meski masih sangat kecil sekali. *Jurnalis Muslim dan Penggerak Teachers Working Group. Selengkapnya...

17 September 2011

Tips Makan Sehat di Luar Rumah

Sekarang semakin banyak orang makan di luar rumah karena pertimbangan kepraktisan. Gejala itu sudah menjadi bagian dari penghuni kota besar di mana-mana. Makan siang orang kantoran rata-rata memilih makan di luar rumah. Namun di balik semua itu tersimpan efek buruk bagi kesehatan. Masihkah ada sisi baik dari makan di luar rumah? Kita bicarakan di sini. BANYAK orang berpikir daripada harus belanja ke pasar atau swalayan, harus repot menyiangi sayur mayur dan bahan masakan lainnya, lalu memasak sendiri di dapur, mending memilih makan di luar rumah. Tidak perlu bersusah payah, tinggal duduk makan, tak perlu membereskan meja makan dan mencuci piring pula. Padahal konsep makan sehat itu bukan sekadar kenyang atau juga asal makan. Kenyang dan asal makan cenderung menjadi pola makan yang salah kebanyakan masyarakat sekarang. Sejatinya tak cukup hanya kenyang, kalau yang dikonsumsi tidak memiliki kandungan nutrisi lengkap yang tubuh butuhkan. Lebih buruk dari itu, apabila yang kita makan mengandung bahan-bahan yang tidak menyehatkan. Butuh 45 jenis zat gizi Tubuh kita membutuhkan sedikitnya 45 jenis zat gizi (nutrient) setiap hari. Tiada hari tanpa boleh kehilangan satu pun zat gizi supaya “mesin” tubuh berputar lancar. Di antara 45 jenis nutrient itu, separuhnya bersifat esensial. Artinya tubuh tidak bisa membuat yang esensial itu sendiri, melainkan harus datang dari luar tubuh, seperti protein esensial, lemak esensial, dan juga vitamin dan mineral esensial. Untuk dapat terpenuhi sampai selengkap itu, tidak diperoleh dari sekadar menu. Menu harus disusun serba lengkap, dibuat dari beraneka jenis bahan makanan, dan diolah menjadi lebih dari hanya satu menu saja. Paling kurang terhidang 4-5 jenis menu setiap kali makan, agar yang 45 jenis zat gizi itu bisa terpenuhi. Namun sekali lagi, saking padatnya waktu, atau sedikitnya waktu makan, dan bahkan dianggap tidak praktis, orang sekarang cenderung makan serba instan. Artinya makan seadanya, seketemunya, dan cenderung hanya satu menu belaka (‘monodiet’). Sepiring nasi dengan soto saja, atau dengan gado-gado saja, atau dengan rawon saja. Jelas menu begitu tidak bisa memenuhi 45 jenis zat gizi sebagaimana yang tubuh butuhkan. Kalau pola makan selalu ‘monodiet’ begitu untuk waktu lama, tubuh akan menderita kekurangan zat gizi. Mungkin satu jenis zat gizi, bisa jadi lebih. Akibat kekurangan itulah maka muncul gejala macam-macam sesuai dengan fungsi zat gizi yang hilang dari menu harian itu. Mungkin kulit jadi kering, fungsi sendi jadi terganggu, kurang darah, sering pegal, dan keluhan harian lainnya. WHO menyebut orang yang sebetulnya kecukupan makan tapi kekurangan satu atau lebih zat gizi dari menu hariannya sebagai hidden hunger. Menyadari akan kenyataan itulah, maka muncul industri suplemen untuk mencukupi semua kekurangan zat gizi yang tidak diperoleh dari menu harian untuk waktu lama. Sekali lagi, penyebabnya lantaran pola makan serba instan, seadanya, seketemunya atau asal kenyang saja. Kualitas makanan di luar rumah Kelemahan makanan di luar rumah bukan cuma satu. Apakah itu junk food, fast food, atau tiger diet, hampir semua tidak tergolong menu yang menyehatkan karena beberapa hal. Pertama, bahan makanannya sendiri belum tentu masih segar. Sayur mayur disimpan lama di lemari es. Begitu juga daging, ikan, dan bahan lainnya. Berarti sejak masih bahan mentah, sudah tidak segar lagi. Tidak segar berarti sudah kehilangan sebagian kandungan gizinya, termasuk vitamin dan mineralnya. Walau kita tahu bahwa bahwa semua bahan mentah untuk dimasak sudah lebih rendah kualitasnya akibat kondisi lapisan atas tanah bumi (topsoil) kita sekarang sudah kehilangan zat hara buat tanaman budidaya, sayur mayur maupun buah-buahan. Itu berarti kelengkapan kandungan alami gizi dari bayam, wortel, sawi, atau apa pun jenis sayur mayur dan buah-buahan sekarang ini tidak se-bermutu zaman dulu. Selain kedua hal di atas, masalah berikutnya terletak pada cara memasaknya yang menambah jelek kualitas menu di luar rumah. Mengapa? Lihat saja cara mengolahnya dengan minyak berlebihan, minyak kelewat panas, bumbu berlebihan, garam dapur kebanyakan, bahkan mengimbuhi zat aditif yang belum tentu aman bagi kesehatan. Jadi kalau dikalkulasikan, hampir semua unsur dalam kebanyakan menu di luar rumah nyaris kurang menyehatkan. Itu semua yang menyebabkan mengapa penyakit-penyakit metabolik, seperti kelebihan lemak dalam darah, kencing manis, jantung koroner, dan stroke acap diperburuk oleh pola makan di luar rumah seperti itu. Jangan lupa juga mengapa kasus kanker semakin banyak sekarang ini, lebih soal salah memilih menu di luar rumah. Penulis : Dr. Handrawan Nadesul (Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan) Selengkapnya...

24 Maret 2011

Resep untuk Membahagiakan Suami

VIVAnews - Sejumlah pasangan suami istri mungkin sesekali suka merasa tidak cocok satu sama lain. Dan hal itu sering menimbulkan cekcok dan merasa berat mengatasi masalah rumah tangga, termasuk juga merasa sulit membahagiakan pasangan secara emosional
Ini menjadi satu di antara banyak alasan, kurangnya kepuasan emosional terutama pada suami. Mungkin benar, pria hanya membutuhkan kepuasan fisik. Dan hal ini, benar-benar membuat banyak wanita cenderung tidak tahu bagaimana memuaskan suami mereka secara emosional.

Bahkan, pada titik kejenuhan wanita akibat kesibukannya di luar rumah, dan juga mengurus anak, wanita cenderung mengabaikan kebahagiaan suami secara emosional.

Sebagai wanita, mungkin Anda butuh tips ini untuk membahagiakan suami seperti dikutip dari Times of India:

1. Pahami keinginan suami
Memahami keinginan pasangan adalah kunci untuk hubungan yang lebih baik. Psikolog Anjali Chhabria, asal India mengatakan, "Pria biasanya lebih sedikit berkata-kata, jadi belajar untuk memahami apa yang tidak mereka katakan," katanya.
"Perkawinan lebih dari sekedar lembaga suci antara dua orang. Anda harus memahami pasangan Anda. Coba pahami dia, dan membuat dia merasa bahwa Anda peduli tentang dia," tambahnya.

2. Komunikasi
Pria perlu kepuasan emosional seperti manusia lainnya. Oleh karenanya, mereka akan merasa dihargai dan merasa penting jika istri mereka mendengarkan hal-hal kecil yang mereka katakan.
Psikolog Chandni Mehta mengatakan, "Stimulasi emosional sangat penting bagi seseorang untuk tertarik dalam hubungan apapun."
Mulailah melakukan komunikasi ringan seperti membicarakan teman-temannya, keluarga, harapan, dan lain-lain. Jangan pernah menempatkan pria hanya sebagai alas atau sebagai pendengar setia dari keluhan Anda. Namun mulai saat ini, jadilah pendengar setia untuk setiap keluh kesahnya.

3. Aspek fisik
Seperti Chhabria mengatakan, perbedaan antara pria dan wanita adalah, bahwa, laki-laki membutuhkan seks untuk cinta dan wanita membutuhkan cinta untuk seks. Aspek fisik sangat penting dan itulah yang membuat perkawinan berbeda dari semua hubungan.
Yah, seperti kita semua tahu, ketika salah satu telah memanjakan dalam mendapatkan fisik dengan seseorang, aspek emosional secara otomatis ikut berperan. Membuat suami Anda merasa bahwa Anda senang dan puas dengan dia secara fisik.

4. Jangan berpura-pura
Jangan pernah berpura-pura di depan suami. Psikolog Varkha Chulani berkata, "Keaslian adalah ikatan pertama dari hubungan emosional. Jika ia melihat Anda telanjang secara fisik, ia juga harus dapat melihat Anda telanjang secara emosional. Iklim kepercayaan dibangun berdasarkan transparansi hubungan. Seharusnya tidak ada manipulasi atau permainan perasaan yang terlibat," ujar Chulani.

5. Beri dia kebebasan
Mencurigai suami terus-menerus bisa membuatnya merasa tak nyaman dan tidak betah berlama-lama di dekat Anda. Biarkan ia tetap sibuk dengan dunia kerjanya, ataupun dengan hobinya dan teman-temannya, asalkan porsi waktu bersama dengan Anda tetap menjadi prioritasnya. Anda tidak perlu melacak keberadaanya setiap waktu selama 24 jam. Berikan kepercayaan padanya dan selalu berfikir positif tentangnya, akan membuat pria merasa lebih dihargai dan membuatnya semakin menyayangi Anda
By Finalia Kodrati, Lutfi Dwi Puji Astuti
Selengkapnya...

MENGUSIR GELISAH DALAM HATI

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dijaman ini, begitu banyak hal yang bisa menjadikan hati kita gelisah. Kenaikan gaji yang nyaris habis dikikis inflasi. Harga sayur-mayur yang menguras uang dapur. Uang sekolah anak-anak yang kadang menyesakkan. Kerena kegelisahan itu, kita menjadi sulit tidur. Dari sulit tidur, lalu kita dihinggapi depresi. Kemudian berkembang menjadi stress berkepanjangan. Untuk mengobatinya; kita meminum obat tidur ditambah anti-depresan dan anti-ansietas. Memang, banyak orang yang tertolong dengan obat-obatan semacam itu. Tetapi, dalam jangka panjang mereka harus menaikkan dosis untuk menghasilkan efek yang sama. Sehingga, akhirnya malah menjadi ketagihan. Adakah alternatif lain selain obat-obatan semacam itu?

Dijaman dahulu kala, obat-obatan seperti itu belum ada. Begitu pula dengan lembaga pelatihan yang menyajikan topik ˜Stress Management™. Sehingga, orang-orang pada masa itu harus mencari jalan keluar lain, seperti yang dikisahkan dalam sebuah dongeng. Dongeng tentang seorang lelaki yang sedang dihinggapi oleh kegelisahan hati. Dia mendatangi seorang bijak ditengah gurun pasir. Lalu bertanya;Tuan, apa rahasianya sehingga Tuan begitu tentram dalam menghadapi hidup yang serba sulit ini?

Orang bijak itu berkata;Aku tahu sebuah rahasia, katanya, “tapi aku tidak bisa mengatakannya kepadamu, lanjutnya.

Lelaki itu menahan kecewa sambil berkata:jika Tuan tidak mengatakannya, bagaimana saya mengetahuinya?”

Engkau bisa membacanya, kata sang bijak, seraya mengarahkan telunjuknya kesebuah gundukan bukit pasir. Disana, lanjut beliau. Ada selembar kulit kambing yang menyimpan rahasia itu. Raihlah kulit kambing itu, dan bacalah apa yang tertulis padanya. Katanya. Jika engkau bisa mengamalkannya, maka hatimu akan terbebas dari rasa gundah dan gelisah. Lalu, orang bijak itu beranjak pergi.

Seketika itu juga, sang lelaki berlari ke gundukan pasir itu. Setelah mencari-cari diseluruh penjuru bukit itu, akhirnya dia berhasil menemukan kulit kambing yang diceritakan oleh sang bijak tadi. Dia bergegas membuka lembaran kulit kambing itu. Dan disana, didapatinya sebaris kalimat aneh yang berbunyi;Alaa bidzikrillaahi tathma-innul quluub…. Sejenak dia berpikir, apa arti kalimat itu. Oh, dia teringat masa kecil dulu, ketika gurunya bercerita tentang rahasia itu. Perlahan-lahan dia teringat pula bahwa kalimat itu berarti, bahwa:hanya ada satu cara untuk menjadikan hati kita tenang, yaitu; dengan mengingat Tuhan.

Orang-orang yang senantiasa mengingat bahwa mereka mempunyai Tuhan tempat bersandar; dijamin akan merasa tenang dihatinya. Betapa tidak? Didunia ini ada begitu banyak hal yang diluar jangkauan kemampuan manusia. Sehingga, mengandalkan kemampuan diri sendiri saja seringkali tidak cukup. Lagipula, masalah kita bisa datang silih berganti. Saat kita terbebas dari suatu masalah, masalah lain serta merta menggantikan.

Ketika teringat kepada Tuhan, kita kembali disadarkan bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Tuhan. Sehingga, saat kita meminta kepadaNya untuk diberi kekuatan, maka kita mendapatkan kekuatan dari sang pemilik kekuatan itu sendiri. Itu membuat kita memiliki kekuatan untuk terus menjalani hidup. Tidak peduli sesulit apapun dia mendera kita.

Selain itu, kita juga kembali disadarkan bahwa Tuhan itu maha adil. Dia tidak mungkin menghukum orang-orang yang berbuat kebajikan. Sebaliknya, tidak mungkin Dia membiarkan orang-orang yang berbuat jahat, menindas sesama manusia, merampas hak orang lain, dan bertindak sewenang-wenang. Sebab, tidak ada satu mahlukpun yang bisa terbebas dari pengawasanNya. Jadi, disaat kita harus melakukan tindakan-tindakan yang baik, kita yakin bahwa Tuhan mendukung kita dibelakang. Namun, ketika terbersit dihati kita untuk melakukan sesuatu yang kurang baik. Atau merugikan orang lain. Atau mengambil hak orang lain, kita teringat bahwa Tuhan menyaksikan. Mudah-mudahan kita ditunjukkan kepada jalan yang lurus lagi.

Mengingat Tuhan, berarti menjadikan Tuhan sebagai backing kita. Jika kita membayar orang-orang berpengaruh untuk menjadi backing kita, rasanya hati kok tenang sekali ya? Apalagi jika yang menjadi backing adalah sang maha pemilik kekuatan dan kekuasaan mutlak. Oleh karena itu selain mendapatkan ketenangan hati, orang-orang yang selalu mengingat Tuhan juga bisa menasihati dirinya sendiri dengan mengatakan; “Cukuplah Tuhan sebagai pelindungku.

Jadi, untuk terbebas dari kegelisahan hati, kita bukan harus bergantung kepada obat-obatan. Melainkan semakin banyak mengingat Tuhan. Karena Alaa bidzikrillaahi tathma-innul quluub…. Hanya dengan mengingat Tuhan, hati kita menjadi tenang. Bayangkan. Jika setiap hari kita bisa mengingat Tuhan. Maka setiap hari. Hati kita. Menjadi tenang.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
Selengkapnya...

11 Mei 2010

HIDUP: ANTARA SEL SPERMA DAN SEL TELUR

Hampir setiap saat ketika kita berangkat kerja atau sekolah atau kemana saja, kita melihat banyak orang mengendarai sepeda atau motor atau kendaraan roda empat lainnya ramai berbondong-bondong menuju satu tempat. Apa yang mereka cari? Jawabanya tentu saja sama, tapi tentunya dengan warna alasan yang berbeda-beda satu sama lain. Tetapi kita yakin inti dari perjalanan itu berkaitan erat dengan hidup dan tuntutannya.

Menyaksikan hilir mudiknya manusia, ada yang berjalan sangat cepat, cepat, sedang dan bahkan cukup lambat, mungkin sedang menikmati perjalanan. Dalam perjalanan terkadang ada yang terlambat karena musibah, ban kempes, kena ranjau jalan, bertabrakan, dengan segala emosi jalanan kala itu. Melaju terus melaju menuju satu yang dituju.

Ketika menyaksikan diri dan semua yang tampak antusias meniti jalan, sejenak terpikir, ya mirip…mirip…mirip sekali. Mirip dengan apa? Mirip dengan proses awal kejadian manusia atau makhluk sejenis manusia lainnya. Proses apa? Penulis pernah menyaksikan sebuah tayangan discovery tentang perjalanan sel sperma setelah dilepaskan menuju sel telur untuk dibuahi supaya terjadi kehidupan yang baru.

Luar biasa, sungguh luar biasa, jutaan sel sperma setelah dilepaskan berlari kencang menuju satu titik yang dituju, aqal saya tidak menerima ketika keteraturan itu berjalan tanpa ada yang merancangnya. Ini sudah dirancang/di design. Ini pasti ada Sang Perancang Yang Luar biasa. Puluhan bahkan ratusan juta sperma yang berlari kencang menuju sel telur/ovum pun demikian, ada yang pelan, cepat, dan sangat cepat. Satu hal yang sangat luar biasa, dari puluhan juta hanya satu yang ditaqdirkan sampai pada sasarannya yaitu sel telur yang berada dalam rahim (suatu tempat yang mampu memfasilitasi-dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan namanya-sisi awal kehidupan) untuk di buahi.

Jadi inilah kehidupan, sejak awal prosesnya memang harus dilakukan dengan pergerakan, pencarian. Mencari dan terus mencari sampai apa yang dicari ditemukan. Dengan satu tujuan, kehidupan. Dan kualitas kehidupan tersebut tergantung dari bibit, bebet dan bobot kedua belah pihak, satu sama lain saling mempengaruhi dan satu sama lain saling membutuhkan. Bukankah demikian hal yang terjadi pada diri kita? Demikain hal ketika kita mencari, besar kecilnya tergantung sumber daya yang ada dalam diri. Dan nilai besar kecil itupun tergantung pada keyakinan diri pada yang Maha Tinggi.


Dan dari proses berfikir ini pula kita mencoba memahami tentang tugas dan fungsi laki-laki dan wanita/perempuan dengan segala kecenderungannya. Dari proses berfikir ini pula jelas terlihat betapa kecilnya kita saat dalam bentuk sperma (katanya 0,05 mm), tak satupun gelar, jabatan, kekayaan yang melekat dalam diri. Yang melekat pada diri hanyalah ungkapan kata kita makhluk yang sangat lemah saat itu. Dan dari sini pula mengapa dalam keyakinan saya dikatakan, “sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk/rupamu tetapi amal/perbuatanmu”. Jadi amal/perbuatan itulah nilai kita dihadapan-Nya, karena amal kitalah yang akan menjadi siapa untuk teman hidup kita yang kekal nanti.

Dari sini pula kita dapat memahami mengapa kita harus melakukan yang baik-baik dan dicintai-Nya, karena kita berasal dari Yang Maha Baik lagi Maha Pecinta dan Dia ingin kita kembali pada-Nya dalam keadaan yang baik. husnul khatimah. Hidup; antara sel sperma dan sel telur, sel sperma lambang sebuah usaha keras (amal/perbuatan) dan sel telur yang ada dalam tempat yang penuh kasih sayang (rahim) adalah satu yang dituju dari kerja keras itu, ditanam, agar terjadi kehidupan, dan kehidupan yang sebenarnya itu adalah kebahagiaan, husnul khatimah. Wallaahu a’lam.

Selengkapnya...

31 Maret 2010

Mengelola Perasaan Iri

JAKARTA, KOMPAS.com — Iri ternyata tidak selalu memiliki konsekuensi negatif, tetapi justru dapat mendorong seseorang untuk merefleksikan diri dan mengembangkan diri. Namun, kapan dan bagaimana agar iri justru memiliki pengaruh positif seperti itu?

Iri adalah emosi negatif, berupa perasaan tidak senang atau sakit hati terhadap apa yang dimiliki atau apa yang dicapai (keberhasilan) orang lain, yang kita juga ingin miliki atau capai.

Ini hampir sama dengan sirik (schadenfreude) yang berarti perasaan senang melihat orang lain gagal atau susah. Orang yang iri biasanya sekaligus sirik. Orang yang tidak senang melihat orang lain sukses tentu sekaligus senang bila melihat orang lain gagal.

Tulisan sebelum ini telah menguraikan mengapa dan bagaimana iri terjadi. Iri merupakan konsekuensi dari pembandingan diri dengan orang lain (perbandingan sosial). Pada satu sisi, dengan perbandingan sosial, kita dapat mengembangkan diri berdasarkan apa yang kita ketahui melalui pengamatan kita terhadap orang lain. Di sisi lain, perbandingan sosial juga dapat menimbulkan perasaan iri. Sebagai emosi negatif, iri dan sirik tentu saja berpotensi mengganggu suasana hati.

Semakin seseorang mudah iri atau semakin kuat intensitas perasaan iri, maka ia akan semakin gelisah akibat rasa tidak suka dan sakit hati. Hal yang lebih dari itu juga dapat mengganggu hubungan interpersonal. Seperti yang sering digambarkan dalam sinetron-sinetron, iri dapat memicu tindakan-tindakan agresi, kekerasan, bahkan kriminal.

Di dalam keluarga, iri antarsaudara sekandung (sibling rivalry) membuat satu sama lain saling menyakiti. Di lingkungan kerja, iri akibat rasa ketidakadilan, akibat kesuksesan orang lain, dan lain sebagainya, dapat menimbulkan tindakan jegal-menjegal dalam karier atau akses-akses ekonomi.

Seperti halnya marah atau dendam, pada akhirnya iri justru merugikan orang yang bersangkutan. Itulah sebabnya diperlukan kemampuan untuk mengelola perasaan iri agar hal itu tidak berkembang destruktif atau merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dalam hubungan interpersonal.

Hasil survei
Masih dari hasil penelitian oleh Faturochman, dosen Psikologi UGM, salah satu hasil yang diperoleh menunjukkan data tentang respons atau tindakan yang dilakukan oleh responden ketika mengalami iri. Tindakan-tindakan tersebut ada yang bersifat konstruktif, ada yang netral, dan ada pula yang destruktif.

Tindakan atau respons konstruktif ditunjukkan dengan jawaban: menjadi motivasi, bilang kepadanya, introspeksi, menjalin relasi, meminta saran, memberi apresiasi, dan kontrol emosi. Respons netral ditunjukkan dengan jawaban: tidak ada yang khusus dan biasa saja. Adapun respons destruktif ditunjukkan dengan jawaban: memendam, mendiamkan, bersaing, tidak suka, kecewa, dan menghindar.

Lepas dari kemungkinan bahwa responden tidak menjawab apa adanya atau cenderung menunjukkan kesan positif dalam merespons survei, kenyataannya, pernyataan mereka mengenai tindakan ketika mengalami iri adalah bervariasi.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tindakan seseorang bila mengalami iri memang tidak selalu destruktif (baik bagi diri sendiri maupun bagi relasi sosial). Atas dasar respons-respons netral atau respons konstruktif yang tergambar dalam penelitian, kita mendapatkan gambaran bahwa iri dapat dikelola agar konstruktif.

Pengelolaan
Menengok kembali hasil survei yang telah disajikan pada tulisan sebelum ini diketahui bahwa ada empat kategori responden yang memiliki kombinasi pengalaman iri dan diirikan, yaitu: (1) yang pernah merasa iri dan diirikan; (2) yang pernah merasa iri, tetapi tidak merasa pernah diirikan orang lain; (3) yang merasa tidak pernah iri, tetapi pernah diirikan; (4) yang tidak pernah merasa iri dan diirikan.

Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan di atas, tampak bahwa kelompok pertama dan kedua memiliki pengalaman iri. Berdasarkan dua kategori individu dalam hal iri itu, berikut ini saran pengelolaannya.

Bila kita termasuk dalam kategori individu yang pernah merasa iri dan diirikan, maka yang penting adalah kita mencermati kecenderungan diri kita sendiri, seberapa sering dan seberapa dalam pengalaman iri dan diirikan itu.

Bila pengalaman iri dan diirikan jarang terjadi, maka kemungkinan penyebab iri yang dialami ialah adanya situasi yang secara obyektif memicu perasaan iri (ketidakadilan dan sebagainya) atau karena berkembangnya konsep diri negatif dalam situasi tertentu. Munculnya iri seperti ini hanya memerlukan sedikit pengelolaan.

Bila penyebabnya situasi yang secara obyektif memicu perasaan iri, maka langkah yang diperlukan adalah mencari solusi atas masalah atau mengambil tindakan alternatif untuk melepaskan diri dari situasi yang menimbulkan iri.

Bila penyebabnya konsep diri negatif dalam situasi tertentu, langkah yang diperlukan adalah mengenali keterbatasan diri dan mengusahakan pengembangan diri, atau dengan menerima kenyataan bahwa setiap orang memiliki keterbatasan.

Adanya pengalaman diirikan yang melengkapi pengalaman iri yang jarang, atau hanya sesekali terjadi, menunjukkan bahwa individu ini kemungkinan memiliki hal-hal positif sehingga ada orang yang mengiri. Ditambah pengalaman iri yang hanya sesekali terjadi, kemungkinan besar secara umum individu ini memiliki konsep diri yang positif, dengan kelemahan-kelemahan dalam hal tertentu.

Dalam menghadapi pengalaman iri, individu jenis ini mungkin memiliki respons netral terhadap rasa iri atau bahkan konstruktif. Bila ada respons destruktif, maka hal itu mungkin sekadar kecewa. Lain halnya bila pengalaman iri dan diirikan sering terjadi dengan intensitas yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut berproses menemukan dirinya.

Selain mungkin disebabkan oleh kurangnya interaksi sosial, orang ini mungkin terbiasa diunggulkan di dalam lingkungan keluarga, kurang berpengalaman menerima diri apa adanya, atau dibesarkan dalam situasi kompetitif. Ia memfokuskan harga dirinya pada keunggulan-keunggulan diri dibanding orang lain.

Ia sangat intensif melakukan perbandingan sosial, dengan kecenderungan mencari pengalaman yang meningkatkan rasa harga dirinya atau menghindari penurunan harga diri dalam perbandingan dengan orang lain. Akibatnya, ia tidak menginginkan kelebihan dan kesuksesan orang lain, dan ingin melihat orang lain gagal atau terkalahkan dengan membuat diri sedemikian rupa sehingga diirikan.

Bila kemungkinan respons terhadap pengalaman iri itu ditinjau, maka mungkin individu-individu dengan tipe ini lebih cenderung mengembangkan respons destruktif, seperti mendiamkan, bersaing, tidak suka, kecewa, dan menghindar.

Pengelolaan diri yang diperlukan adalah dengan belajar menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Diperlukan langkah mengenali kekuatan dan kelemahan diri yang dimiliki berdasarkan aspek-aspek fisik (postur tubuh, wajah, kesehatan, dan lain sebagainya), aspek psikologis (kemampuan, sifat, motif, dan lain sebagainya), aspek sosial (relasi sosial, keluarga, dan lain sebagainya), dan aspek moral-spiritual (perilaku etis, relasi dengan Tuhan, dan lain sebagainya).

Berdasarkan pengenalan diri tersebut, seseorang dapat mulai mengembangkan diri secara sehat dengan terus mengembangkan kekuatan yang ada, tanpa terlalu fokus terhadap orang lain. Kelemahan perlu diperbaiki, khususnya dalam aspek sosial, dengan cara lebih berempati terhadap orang lain.

Empati (menempatkan diri dalam posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain) merupakan cara yang efektif untuk menghilangkan rasa iri atau kesenangan membuat orang lain iri.

Dengan mengembangkan diri seperti itu, ia dapat semakin matang dengan bebas dari pengalaman iri yang sesungguhnya sangat menyesakkan.

Untuk individu yang pernah merasa iri, tetapi tidak merasa pernah diirikan orang lain, individu-individu ini diduga adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan rendah diri (inferior), merasa tidak memiliki hal-hal yang dapat dibanggakan sehingga tidak ada alasan orang lain iri kepadanya.

Kemungkinan orang ini kurang memiliki pengalaman berinteraksi secara mendalam dengan orang lain, jaringan sosialnya sempit (tidak memiliki banyak relasi sosial), atau memiliki kesempatan yang kecil untuk mengekspresikan diri atau mengaktualisasi diri. Konsep dirinya kurang berkembang dan harga dirinya rendah. Bila harga diri rendah (inferior), maka orang mudah mengalami iri.

Responsnya terhadap pengalaman iri kemungkinan besar adalah destruktif. Namun, tidak seperti pada tipe individu yang memiliki pengalaman iri dan diirikan secara kuat, individu-individu yang mengalami rendah diri ini kemungkinan besar akan merespons pengalaman iri dengan sikap memendam dan kecewa.

Hal yang penting dilakukan oleh mereka yang mengalami rasa inferior ini adalah mengembangkan relasi sosial yang hangat dengan orang-orang lain. Agar memiliki keberanian, yang lebih dulu diperlukan adalah mengenali kekuatan dirinya dan lebih berfokus terhadap kekuatan-kekuatan tersebut, serta tidak berfokus pada kekurangan yang dimiliki.

Perlu diyakini bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Hal ini perlu diyakini supaya seseorang dapat menerima kekurangan diri sebagai hal yang wajar. Pengenalan terhadap kelemahan diri hanya diperlukan sebagai pijakan untuk mengembangkan diri. Bila inferioritas telah diatasi, maka pengalaman iri akan semakin menghilang. @

M M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

http://id.news.yahoo.com/kmps/20100331/tls-mengelola-perasaan-iri-8d16233.html

Selengkapnya...

22 Desember 2009

Kloset Jongkok Lebih Baik buat Kesehatan

KOMPAS.com — Gangguan fungsi kemih sebenarnya bisa dikurangi dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengurangi konsumsi minuman yang mengandung kafein, alkohol, serta obat-obatan.

"Kafein memiliki zat yang dapat memacu detak jantung serta meningkatkan produksi urine," kata Mulyadi Tedjapranata, dokter Klinik Medizone di Apartemen Taman Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menurut Mulyadi, upaya pencegahan gangguan kemih sejatinya bisa dilakukan sedini mungkin. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah membiasakan untuk tidak menahan keinginan untuk buang air kecil. Bagi anak-anak, melakukan latihan buang air kecil atau toileting assistance bahkan sudah harus dilakukan sejak anak-anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

Cara lain yang efektif adalah menghindari penggunaan kloset duduk. Penggunaan kloset duduk dalam jangka panjang akan memperbesar risiko terjadi infeksi saluran kencing yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan berkemih. Pasalnya, permukaan toilet umumnya menjadi perantara penyebaran kuman. Penggunaan toilet jongkok justru lebih baik.

Pasalnya, ini akan membuat pengguna tidak bersentuhan langsung dengan permukaan toilet sehingga lebih higienis. "Apalagi, jika kerap memakai fasilitas toilet umum, toilet jongkok lebih baik," ujar dia.

Tak hanya itu, penggunaan kloset duduk juga membuat otot saluran kencing bekerja lebih keras saat mengejang atau mengeluarkan urine. Dalam tahap ringan, infeksi saluran kemih biasanya ditandai dengan anyang-anyangan atau keluarnya air seni yang tak tuntas, sakit perut bagian bawah, serta rasa sakit saat akhir buang air kecil.

Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas kita. Bahkan, kalau dibiarkan berlarut, ini bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing, gangguan psikososial seperti depresi dan gangguan tidur. (KONTAN/Herlina Kartika Dewi)

Selengkapnya...

24 November 2009

Fenomena Koruptor Religius

Oleh: Anita Retno Lestari *)
*ADA* fakta ganjil yang sudah lama berlangsung di Indonesia: agama sering menjadi selimut atau topeng untuk me¬nutupi tindakan korupsi. Misalnya, kaum koruptor tampak rajin melaksanakan ritual agama dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat sekitarnya seperti menyelenggarakan acara doa bersama atau acara syukuran.
Bahkan, ketika membangun rumah, banyak koruptor yang tidak lupa membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Jika dicermati lebih serius, tidak ada koruptor di Indonesia yang tidak beragama. Karena itu, ada pertanyaan yang layak diutarakan: kenapa seseorang bisa menjadi koruptor sekaligus rajin beribadah? Adakah hubungan antara agama dan korupsi?

*Kamuflase *
Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah mungkin akan dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam hal ini, para ko¬ruptor sengaja memfungsikan agama se¬bagai kamuflase atas kejahatannya. Tentu saja, fenomena demikian bukan hal yang aneh dan baru dalam sejarah agama-agama.
Seperti dalam Islam, sejak awal ma¬sa perkembangannya, stigma munafik te¬lah diperkenalkan. Stigma itu diberi¬kan kepada orang yang sengaja mem¬fung¬sikan Islam hanya sebagai kamu¬fla¬se. Dalam Islam, orang munafik di¬anggap musuh paling berbahaya ba¬gi kaum muslimin. Ibarat musuh dalam sa¬tu selimut yang selalu siap mencela¬ka¬¬kan kapan saja. Dengan demikian, da¬lam Alquran maupun hadis, banyak disebutkan bahwa
kaum munafik ada¬lah kaum yang sangat dikutuk oleh Allah SAW.
Jika faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam, agaknya layak diduga, mereka tergolong kaum munafik. Bila mereka per¬nah atau sedang menjadi pejabat-pejabat penting, bangsa dan negara Indonesia, sepertinya, juga layak ditengarai se¬bagai ikut-ikutan terkutuk, dengan bukti seringnya terjadi bencana atau tra¬gedi kemanusiaan.
Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya
menga¬da¬kan acara doa bersama atau acara syukuran, ada kesan bahwa para pemuka agama seolah-olah ikut mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut bisa saja menyakitkan, tapi agaknya tetap layak diungkapkan. Sebab, itu didukung fakta yang cenderung semakin fenomenal.
Fenomena memfungsikan agama sebagai kamuflase serta kemunafikan para
koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye pe¬milu (dan belakangan pilkada). Misalnya, betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lom¬ ba merangkul pemuka-pemuka agama. Betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan sumbangan dana pembangunan fasilitas peribadatan atau sarana pendidikan agama. Dalam hal ini, semua pe¬muka agama justru gembira (dan tidak ada yang keberatan atau sekadar mengkritik perilaku munafik).
Karena itu, wajar-wajar saja jika ada yang bilang bahwa pemuka-pemuka agama sekarang akan senang-senang saja menerima sumbangan dana meski si pemberi jelas-jelas seorang koruptor!

*Kontradiksi *
Beberapa tahun lalu, dari lingkungan sebuah organisasi keagamaan, muncul fatwa bahwa koruptor yang meninggal dunia tidak wajib disalati. Pasalnya, koruptor identik dengan munafik. Fatwa demikian selayaknya menjadi otokritik. Sebab, selama ini banyak koruptor yang gemar mendatangi kiai-kiai untuk memberikan sumbangan dana pembangunan masjid dan pondok pesantren. Mereka bermaksud mendapatkan dukungan politik dari kiai dan pengikut mereka.
Adanya fatwa dan perilaku kemunafikan tersebut tentu saja merupakan kontradiksi yang bisa saja akan membingungkan masyarakat awam. Bagaimana mungkin pemuka agama bisa akur dengan koruptor?
Dengan demikian, agaknya, juga perlu segera ada fatwa baru untuk menjelaskan kontradiksi tersebut, agar ke depan tidak semakin membingungkan masyarakat awam. Sejauh ini, kontradiksi itu memang belum pernah dikaji secara serius oleh komunitas-komunitas keagamaan di Indonesia. Bahkan, belum ada pemuka agama yang mempersoalkan kontradiksi tersebut secara terbuka. Dengan begitu, hal ini pun kemudian mengundang pertanyaan baru: benarkah telah terjadi kompromi antara koruptor dan
kalangan pemuka agama, karena sebagian hasil korupsi digunakan untuk mendanai kepentingan pengembangan agama?

*Revitalisasi Agama *
Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarkan oleh pemuka-pemuka agama karena, sepertinya, telanjur dianggap bukan masalah yang perlu dipersoalkan lagi. Jika kini sejumlah perangkat hukum yang ada tidak bisa memberantasnya, sepertinya, perlu dilakukan upaya-upaya alternatif. Misalnya, melakukan revitalisasi agama oleh kalangan pemuka agama. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, memandirikan semua organisasi keagamaan di Indonesia dengan menerapkan sikap tegas untuk tidak menerima sumbangan dana dari pihak-pihak yang terindikasi korup.
Kedua, pemuka-pemuka agama menolak terlibat dalam politik praktis dengan cara tidak bergabung atau sekadar bersimpati kepada kekuatan politik yang korup. Dalam hal ini, pada saat menjelang pemilu atau pilkada, pemuka agama harus netral dan tidak mendukung secara langsung maupun tidak langsung yang menguntungkan para koruptor.
Ketiga, mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap indikasi-indikasi korupsi agar tidak memberikan dukungan politik kepada siapa pun yang terindikasi korup.
Keempat, pemuka agama serta umat beragama segera memutuskan hubungan dengan semua pejabat negara yang terindikasi korup. Dalam hal ini, menolak tegas undangan doa bersama atau acara syukuran yang diselenggarakan oleh pejabat negara yang terindikasi korup. Dengan cara demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan
menjadikan agama sebagai kamuflase.
Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang identik dengan merajalelanya kaum munafik dalam melakukan korupsi berjamaah mungkin akan segera dapat dikikis habis. (*)

*) Anita Retno Lestari, direktur Lembaga Studi Humaniora


Selengkapnya...